Pangkalpinang — Sebanyak 38 desa di Kabupaten Bangka Barat memperkuat komitmen pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut dirangkaikan dengan Coaching Clinic Program TPBIS dan materi Sistem Informasi Manajemen Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (SIM TPBIS).
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Harpin, S.H., menyampaikan bahwa penandatanganan PKS bukan sekadar formalitas administratif, melainkan bentuk komitmen bersama untuk menghadirkan perpustakaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, melalui TPBIS, perpustakaan harus bertransformasi dari sekadar tempat membaca dan meminjam buku menjadi ruang belajar, berbagi, bertemu, serta pemberdayaan masyarakat. Perpustakaan diharapkan mampu mengambil peran dalam peningkatan keterampilan, literasi digital, kewirausahaan, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.
“Program perpustakaan harus berangkat dari kebutuhan masyarakat. Jika masyarakat membutuhkan keterampilan, fasilitasi kegiatan keterampilan. Jika masyarakat membutuhkan literasi digital, hadirkan pembelajaran digital. Jika pelaku UMKM membutuhkan peningkatan kapasitas, perpustakaan dapat menjadi ruang belajar dan berbagi pengetahuan,” ujar Harpin.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Cupang, Gega Kharisma. Menurutnya, program TPBIS memberikan manfaat besar dalam menghidupkan perpustakaan desa sekaligus mendorong pengelola untuk memiliki tanggung jawab dan kontrol terhadap keberlanjutan perpustakaan.
“Program TPBIS ini besar manfaatnya. Perpustakaan desa menjadi lebih hidup dan memiliki tanggung jawab serta kontrol” ungkap Gega.
Sementara itu, Kepala Desa Belo Laut, Ibnu Ishak, yang desanya menjadi salah satu penerima bantuan TPBIS pertama pada 2021, mengatakan keberadaan program tersebut turut mendorong perpustakaan menjadi pusat kegiatan masyarakat.
“Pengunjungnya lebih variatif, bukan hanya pelajar, tetapi juga ibu-ibu PKK dan masyarakat lainnya. Perpustakaan akhirnya menjadi pusat kegiatan masyarakat,” ujar Ibnu.
Melalui coaching clinic, para pengelola perpustakaan desa didorong untuk berdiskusi, menyampaikan kendala, mengevaluasi kegiatan yang telah berjalan, serta menyusun langkah nyata untuk pengembangan perpustakaan masing-masing. Peserta juga mendapatkan materi SIM TPBIS dari Cahya selaku Pelatih Ahli Program TPBIS.
Harpin menekankan bahwa keberhasilan TPBIS tidak berhenti pada dokumen kerja sama yang ditandatangani, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Ia juga mendorong kolaborasi antara perpustakaan desa dengan pemerintah desa, sekolah, PKK, karang taruna, UMKM, komunitas, dan berbagai unsur lainnya.
Harpin berharap 38 perpustakaan desa mitra TPBIS di Kabupaten Bangka Barat dapat menjadi motor penggerak literasi di tingkat desa dan melahirkan berbagai praktik baik yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Turut hadir Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan, Rinaldy, S.T., M.Si., Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bangka Barat beserta jajaran, para Kepala Desa mitra program TPBIS se-Kabupaten Bangka Barat atau yang mewakili, serta tenaga perpustakaan desa se-Kabupaten Bangka Barat.
- 1 read




