What is personal branding?
Menurut Schawbel (2009), personal branding menggambarkan proses dimana individu dan pengusaha membedakan diri mereka dan berdiri keluar dari keramaian dengan mengidentifikasi dan mengartikulasikan nilai unik mereka, apakah profesional dan kemudian memanfaatkannya di seluruh platform dengan konsisten pesan dan gambar untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan cara ini, individu dapat meningkatkan pengakuan mereka sebagai ahli di bidangnya, membangun reputasi dan kredibilitas, memajukan karir mereka dan membangun diri sendiri kepercayaan.
Menurut Montaya (2002) dalam personal branding the phenomenon bahwa “librarians’ personal branding is a personal identity that stimulates precise, meaningful preceptions in its audience about the value and qualities that person or librarian stands for” untuk menciptakan layanan perpustakaan yang unggul diperlukan pustakawan yang berkualitas, bukan hanya label pustakawan saja. Di perlukan pustakawan dengan kepribadian dan bertutur kata yang baik dalam melayani yang mencerminkan bahwa pustakawan tersebut layak untuk sebagai sumber informasi.
Selama ini kesan pustakawan adalah orang yang serius, rumit, sulit untuk didekati dan tidak ramah. Apakah benar branding pustakawan sebenarnya seperti itu?
Branding itu terjadi karena pustakawan hanya menjalani profesi mereka tanpa rasa bangga dan cinta terhadap profesinya sehingga orang lain membuat kesan dan penilaian terhadap mereka. Ini adalah masalah dan tantangan bagi pustakawan saat ini, di mana penilaian masyarakat terhadap profesi pustakawan yang kurang baik ini merupakan dampak yang panjang. Ketika masyarakat atau pengguna perpustakaan mulai menciptakan persepsi mereka yang tidak seharusnya untuk pustakawan, itu akan mempengaruhi citra pustakawan.
Personal branding berkaitan dengan hubungan, reputasi dan tanggung jawab profesi. Personal branding bukan hanya berkaitan tentang diri secara pribadi melainkan sesuatu yang lebih luas yaitu mengenai hubungan sosial seseorang atau komunitas bagaimana seseorang bertingkah laku dan bertindak dalam kehidupan sosial dan komunitas seseorang.
Basically, a librarian is an information professional trained in library and information science, which is the organization and management of information services or materials for those with information needs (Kumar, 2010). Menurut Kumar pada dasarnya, seorang pustakawan adalah seorang profesional informasi yang dilatih perpustakaan dan ilmu informasi, yang merupakan organisasi dan manajemen layanan informasi atau bahan untuk mereka yang membutuhkan informasi. Dari pengertian tersebut kita bisa menyimpulkan saharusnya citra pustakawan adalah orang yang aktif dalam memberikan informasi dan memiliki peranan penting dalam peyebaran informasi. Bukankah ini kebalikan dengan citra pustakawan selama ini serius, rumit, yang sulit didekati dan tidak ramah seharusnya sebagai sumber informasi pustakawan memiliki branding yang ramah siap membantu orang yang mebutuhkan informasi.
Disini Branding sangat penting dan dibutukan untuk pustakawan. Pustakawan harus bisa membangun kepribadian khusus untuk menarik pengguna perpustakaan dan mau menggunakan jasa mereka. Selama ini kita berpikir branding hanya diperuntukkan untuk produk dan dikaitkan dengan merek perusahaan. Tetapi pustakawan juga harus memiliki branding positif agar dapat digunakan untuk mempromosikan perpustakaan. Many librarians do not use this concept and they do not do their own branding (Kumar, 2010).
Bagaimana cara pustakawan untuk menaikan nilai profesinya dimata publik atau masyarakat tetapi bukan hanya secara tampilan luar tapi bagaimana juga kita menaikan kualitas pribadi dalam mengembangkan profesi. Memiliki merek atau branding pribadi yang positif dapat mewakili tingkat pengetahuan dan profesionalisme pustakawan. Pustakawan harus memiliki sesuatu inovasi yang signifikan untuk membuat perubahan. Sehingga pengguna perpustakaan sacara umum, profesor, peneliti, kolega maupun calon atasan akan mencari nya (pustakawan).
Untuk mendapatkan pengakuan keahlian, reputasi dan kredibilitas pustakawan harus membangun kepercayaan masyarakat dengan meningkatkan:
1. Pendidikan
Pustakawan dituntut memiliki pendidikan formal ilmu perpustakaan, pustakawan dituntut gemar membaca, terampil, kreatif, cerdas, tanggap, berwawasan luas, berorientasi kedepan, mampu menyerap ilmu, obyektif (berorientasi pada data), tetapi memerlukan disiplin ilmu tertentu di pihak lain, berwawasan lingkungan, mentaati etika profesi pustakawan, mempunyai motivasi tinggi, berkarya di bidang kepustakawanan dan mampu melaksanakan penelitian dan penyuluhan di bidangnya. Disamping itu pustakawan juga harus aktif dalam mengikuti seminar, pelatihan maupun diklat untuk memperbarui pengetahuan mereka di bidang perpustakaan.
2. Kompetensi
Sebagai pustakawan kita harus memperbaiki kinerja kita dari kemampuan dan daya dukung yang kita miliki untuk membantu dalam perkembangan perpustakaan dan memberikan dampak positif dalam perkembangan literasi informasi dalam masyarakat. Dan ini harus dilakukan dalam bentuk tindakan nyata bukan hanya dalam visi dan misi.
3. Profesional dalam bekerja.
Pustakawan dikatakan profesional jika memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar agar bisa menguasi pekerjaan yang dilakukan. Seorang pustakawan juga harus memiliki loyalitas dan integritas yang tinggi terhadap lembaga beserta kebijakan-kebijakannya. Selain itu seorang pustakawan harus mampu bekerja keras dan bekerjasama dalam sebuah teamwork, memiliki visi dan sasaran yang jelas dalam bekerja, serta komitmen tinggi terhadap nilai-nilai pekerjaan. Dan yang utama lainnya seorang pustakawan adalah seseorang yang memiliki daya kompetitif, inovatif, penuh motivasi, bangga terhadap profesinya, dan terlibat secara aktif dalam organisasi profesinya.
Kemampuan dan keahlian pustakawan diukur melalui Sertifikasi Pustawan yang merujuk dari SKKNI ( Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) Bidang Perpustakaan. Tujuan sertifikasi pustakawan adalah:
a. Mengakui secara formal kompetensi seorang pustakawan sesuai dengan standar nasional.
b. Meningkatkan profesionalisme pustakawan dan menentukan kelayakan kesiapan seorang pustakawan dalam memberikan layanan layanan prima perpustakaan.
c. Menghilangkan pembedaan pustakawan PNS dan pustakawan swasta.
d. Pustakawan yang telah tersertifikasi akan memiliki kedudukan yang sama terhadap pengakuan kemampuan yang dimiliki, karena sudah ada lembaga penjamin mutu (quality assurance).
Diharapkan dengan sertifikasi pustakawan dapat membentuk pustakawan yang memiliki daya saing dan memotivasi pustakawan untuk lebih profesional dalam bekerja tentunya ini akan memberikan rasa bangga terhadap profesinya.
4. Berpenampilan Menarik atau Good Looking
Dengan memperbaiki penampilan dan tersenyum, kesan pustakawan yang tidak menarik dan tidak rapi harus dihilangkan pustakawan harus bisa berpenampilan menarik dan meyakinkan. Kenapa harus berpenampilan rapi dan menarik karena kebanyakan orang menilai seseorang dari first impression atau kesan pandangan pertama, orang beranggapan seseorang yang berpenampilan menarik dianggap pintar. Dengan berpenampilan menarik dan murah senyum juga akan membuat pustakawan lebih percaya diri untuk bertemu dengan orang banyak, karena membuat orang yang melihat senang dan tidak bosan.
Untuk membentuk personal branding pustakawan diperlukan komitmen yang kuat dari pustakawan secara umum. Pustakawan harus memiliki kepercayaan diri yang kuat dan kebanggan terhadap profesinya. Selain itu Pustakawan juga harus memiliki kompetensi daya saing, aktif dalam organisasi profesi, up to date dengan informasi terbaru dan saling bekerjasama antar pustakawan.
Sumber :
http://www.ala.org/rt/nmrt/news/footnotes/february2011/personal_branding...
digilib.undip.ac.id/v2/2012/05/11/rebranding-perpustakaan-peningkatan-kualitas-layanan-dan-kompetensi-sdm/
https://pustakapusdokinfo.wordpress.com/2010/10/04/rebranding-perpustaka...
Vision 2020: Sustainable Growth, Economic Development, and Global Competitiveness. From Word Wide Web: https://www.researchgate.net/publication/281481121_Conceptualizing_Perso...
Kumar, S. A. (2010). Knowledge management and new generation of libraries information services: A concepts. International Journal of Library and Information Science, 1(2), 024-030. from World Wide Web: http://www.academicjournals.org/ijlis
- 373 reads
