Primary tabs

RENDAHNYA MINAT BACA SISWA

Kata perpustakaan merupakan suatu hal yang tidak asing didengar malahan sangat lumrah. Dan juga siapa sih yang tidak kenal yang namanya perpustakaan pasti semua orang tahu apa itu perpustakaan. Perpustakaan sendiri  merupakan suatu tempat atau ruangan yang berisi kumpulan buku atau sekumpulan buku. Menurut Sutarno NS, (2006:11) Perpustakaan adalah mencakup suatu ruangan, bagian dari gedung / bangunan atau gedung tersendiri yang berisi buku-buku koleksi, yang diatur dan disusun demikian rupa, sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pembaca. Di Indonesia sendiri minat baca masyarakatnya sangat rendah. Menurut data UNESCO pada tahun 2016, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Minat baca Indonesia berada di peringkat 60.

Tidak terkecuali, siswa juga  kurang minat dalam membaca. Minat baca adalah sumber motivasi kuat bagi seseorang untuk menganalisa dan mengingat serta mengevaluasi bacaan yang telah dibacanya, yang merupakan pengalaman belajar menggembirakan. Minat baca mempengaruhi bentuk serta intensitas seseorang dalam menentukan cita-citanya kelak dimasa yang akan datang, hal tersebut juga adalah bagian dari proses pengembangan diri yang harus senantiasa diasah sebab minat membaca tidak diperoleh dari lahir. Rendahnya minat baca sangat berpengaruh besar terhadap mutu pendidikan. Secara umum, terdapat dua faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya minat baca siswa yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri, seperti pembawaan, kebiasaan dan ekspresi diri. Sementara faktor eksternal yaitu sarana dan prasarana, kurangnya atau minimnya ketersediaan buku yang membuat siswa kurang minat untuk berkunjung di perpustakaan, sehingga siswa harus membeli sendiri buku dan juga perpustakaan sekolah menyediakan buku yang kurang menarik bagi anak-anak.

Buku yang menarik bagi anak ialah yang mempunyai tampilan warna-warni dan beraneka macam gambar. Sementara itu, buku yang tersedia di perpustakaan sebagian besar telah usang, jenis tulisannya kecil, tidak terdapat gambar, dan hanya berupa narasi yang membosankan bagi anak. Selain itu, kurangnya budaya membaca di keluarga, masyarakat dan di lingkungannya tersebut. Hal ini, bisa membuat siswa tersebut kurang minat dalam membaca. Dan juga salah satu faktornya yaitu akibat dari teknologi dan internet, misalnya bermain video game dan sosial media (sosmed), kita tahu sendiri di era milenial ini semuanya serba teknologi dan internet. Akibatnya nasib buku-buku di perpustakaan tak ubahnya susunan debu sebagai sarang hantu. Teknologi informasi boleh beranak pinak menggerogoti buku-buku di muka bumi, akan tetapi minat membaca jangan sampai musnah. Karena membaca akan memberikan dampak positif bagi pengarang atau penulis dan meningkatkan roda perekonomian secara merata. Padahal dengan membaca siswa menjadi tahu apa yang sebelumnya belum diketahui.

 Dan secara umum untuk meningkatkan pengertian, pemahaman dan pengetahuan tentang pelajaran dalam menguasai informasi dan perkembangan teknologi adalah dengan kegiatan membaca. Apabila siswa tersebut sudah malas untuk membaca maka hal tersebut juga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa tersebut. Namun semua masalah tersebut bisa diatas secara perlahan, tidak bisa langsung instan. Berikut ini ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan minat baca pada siswa antara lain:

1. Literasi pagi hari

Literasi pagi hari adalah kegiatan yang dilakukan sebelum proses pembelajaran berlangsung. Siswa diberikan kesempatan untuk membaca buku, baik berupa bacaan fiksi maupun nonfiksi. Untuk siswa kelas rendah dapat dilakukan dengan cara mendengarkan cerita yang dibacakan oleh guru. Guru tidak harus menyelesaikan bacaannya. Tujuannya agar siswa penasaran isi cerita selanjutnya. Dengan demikian siswa akan berusaha mencari buku yang sesuai dengan apa yang dibacakan oleh guru di perpustakaan.

2. Pojok baca

Pojok baca adalah tempat yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan membaca di dalam kelas. Pojok baca berada di salah satu sudut ruangan kelas yang didesign seperti mini perpustakaan. Pada pojok buku disediakan sebuah rak kecil untuk meletakkan buku-buku bacaan. Buku yang diletakkan adalah buku bacaan milik siswa yang dibawa ke sekolah. Tujuannya agar siswa dapat saling meminjam buku satu dengan yang lainnya. Pojok baca dimanfaatkan siswa setiap jam istirahat. Dengan demikian, perpustakaan sekolah yang penuh bisa dihindari.

3. Kunjungan Perpustakaan

Siswa diajak untuk ke perpustakaan. Ruangan perpustakaan yang terbatas dapat dihindari dengan melakukan penjadwalan untuk masing-masing kelas. Setiap kelas dibuat secara bergantian. Misalkan, hari Senin untuk kelas I, Selasa untuk kelas II, Rabu untuk kelas III, Kamis untuk kelas IV, Jumat untuk kelas V, dan Sabtu untuk kelas VI. Melalui penjadwalan ini siswa akan terbiasa untuk mengunjungi perpustakaan. Ketika pelaksanaan guru kelas wajib untuk mendampingi. Guru memantau buku yang dibaca oleh anak. Setiap anak membawa satu buku yang telah mereka pilih. Mereka dapat membawa pulang untuk melanjutkan membacanya. Target penyelesaiannya satu minggu ke depan. Sehingga pada hari yang sama di minggu berikutnya siswa dapat mengembalikan dan meminjam buku yang baru untuk dibacanya.

4. Pohon Literasi

Pohon literasi adalah media yang digunakan guru untuk memotivasi siswa melakukan kegiatan membaca. Guru membuat gambar sebuah pohon yang kemudian ditempel di dalam kelas. Setiap siswa wajib menempelkan daun pada rantingnya. Daun itu berisi judul buku yang telah berhasil siswa baca selama satu minggu. Guru sebagai fasilitator memperhatikan setiap daun yang ditempel. Guru mencatat siswa yang telah berhasil membaca satu buku dalam waktu satu minggu. Kegiatan menggunakan pohon literasi ini akan memotivasi siswa yang belum mampu menyelesaikan target membaca untuk segera menyelesaikannya.

5. Perpustakaan rumahku

Perpustakaan rumahku artinya menjadi perpustakaan itu seperti layaknya rumah. Ruangan perpustakaan dibuat senyaman mungkin sehingga siswa menjadi betah ketika berada di perpustakaan sekolah. Koleksi buku yang ada di dalam perpustakaan ditata rapi di rak, sehingga siswa mudah mencari buku yang dibutuhkan. Tempat membaca disesuaikan dengan kondisi ruangan. Apabila memungkinkan perpustakaan sekolah mempunyai tempat membaca di luar ruangan.

6. Koleksi buku perpustakaan

Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang menyediakan berbagai jenis buku, baik majalah, tabloid, koran, maupun buku bacaan lainnya. Perpustakaan yang memiliki koleksi buku lengkap akan menumbuhkan minat baca siswa. Terutama di sekolah dasar, koleksi buku disesuaikan dengan tingkat usianya. Siswa akan lebih tertarik untuk meminjam buku apabila buku itu sesuai dengan umur mereka. Perpustakaan sekolah dasar hendaknya menyediakan koleksi buku yang berisi tentang dunia anak.

Dapat disimpulkan bahwa kurangnya minat baca pada siswa terjadi akibat dari faktor internal dan eksternal. Dan ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa salah satunya menyediakan koleksi buku yang bervariasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

https://www.seputarpengetahuan.co.id/2017/08/pengertian-perpustakaan Menurut-para-ahli.html

https://astutik084054.gurusiana.id/article/2017/10/menumbuhkan-minat-bac...

https://edukasi.kompas.com/read/2019/06/23/07015701/literasi-baca-indone...

Penulis: 
Runi Alcitra Amalia
Sumber: 
Pustakawan DKPUS Provinsi Kep. Bangka Belitung

Artikel

31/12/2024 | Darma, S.I.Pust, Pustakawan Universitas Bangka Belitung
30/12/2024 | Darma, S.I.Pust, Pustakawan Universitas Bangka Belitung
29/12/2023 | DKPUS Prov. Kep. Babel
21/12/2023 | DKPUS Prov. Kep. Babel
13/12/2023 | DKPUS Prov. Kep. Babel
05/04/2019 | Runi Alcitra amalia
61,926 kali dilihat
05/12/2022 | Riyad, Pustakawan DKPUS Prov. Kep. Babel
32,122 kali dilihat
03/10/2019 | Runi Alcitra Amalia
21,386 kali dilihat

ArtikelPer Kategori