Lifestlye bila diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah gaya hidup. Namun menurut seorang ahli psikologi Alfred Adler (1929), gaya hidup adalah sekumpulan perilaku yang mempunyai arti bagi individu maupun orang lain pada suatu saat di suatu tempat, termasuk didalam hubungan sosial, konsumsi barang, entertainment dan berbusana. Gaya hidup dapat dipengaruhi oleh berbagai aspek salah satunya teknologi informasi. Perkembangan teknologi sangat berpengaruh pada perpustakaan. Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi zaman sekarang ini menjadikan perpustakaan memiliki tantangan yang besar sebagai penyedia sumber informasi. Perpustakaan sebagai pemilik dan pengolah informasi harus memahami kebutuhan penggunanya dengan menjalin komunikasi yang baik atau berinteraksi dengan penggunanya. Perpustakaan harus menyesuaikan diri dengan suatu kenyataan dan fenomena yang baru, yaitu keharusan berkompetisi untuk mendapatkan perhatian dari pengguna, khususnya pengguna pelajar dan pemuda, yang menghendaki isi yang dinamis, interaktif dan bisa diberi sentuhan pribadi, isi yang dapat diambil tanpa harus datang keperpustakaan.
Dalam membangun perpustakaan yang sesuai dengan gaya hidup pengguna dibutuhkan peran pustakawan. Menurut Qalyubi (2007:4) pustakawan yaitu orang yang bekerja di perpustakaan atau lembaga sejenisnya dan memiliki pendidikan perpustakaan secara formal. Sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan harus dapat membangun perpustakaan yang mengkuti selera dan gaya hidup jaman sekarang diantaranya dengan membuat perpustakaan digital. Perpustakaan digital adalah organisasi yang melakukan kegiatan memilih, mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan koleksi digital. Perpustakaan digital menjadi sebuah keniscayaan yang patut untuk dipikirkaan dan diwujudkan dalam waktu yang akan datang sehingga perpustakaan yang selama ini menjadi tempat yang ’wajib’ disinggahi untuk mencari buku yang berkualitas tetap menjadi alternatif pilihan utama oleh kalangan pelajar dan pemuda karena wajah dan layanan perpustakaan yang beradaptasi dengan perkembangan zamannya. Perpustakaan dapat mengambil peran yang lebih dari sekedar tempat membaca, tetapi melalui berbagai kegiatan kreatif dan inovatif sehingga menarik pengguna untuk datang ke perpustakaan dan memanfaatkan perpustakaan semaksimalnya. Kegiatan perpustakaan bisa berupa lomba dance, nyanyi, atau bentuk kegiatan lain yang diminati oleh pelajar.
Pustakawan tidak hanya bekerja sendiri tetapi juga harus kerjasama dengan berbagai pihak untuk membangun opini publik bahwa berkunjung ke perpustakaan dan memanfaatkan perpustakaan merupakan sebuah kebutuhan. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya harus disertai dengan berbagai perbaikan di internal perpustakaan sendiri. Tidak hanya fisik perpustakaan dan fasilitas yang lengkap dari perpustakaan tersebut, tapi juga harus ditingkatkan adalah kemampuan dan kreatifitas pustakawan untuk memanjakan pengunjung perpustakaan. Dengan adanya aspek tersebut maka pengguna menjadikan perpustakaan sebagai gaya hidupnya.
Daftar Pustaka:
Adler, Alfred. 1930. Individual Psychology. Worcester Mass: Clark Univ Press.
http://omi-library.blogspot.com/2013/10/jadikan-budaya-baca-dan-berkunju... (Diakses 01 November 2018)
Qolyubi, Syihabuddin Dkk. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga.
- 198 reads
