Geliat masyarakat untuk meningkatkan literasi di Indonesia sudah nampak bermunculan ke permukaan. Tidak hanya menunggu bantuan dari pemerintah, mereka mulai bergerak secara mandiri. Mereka sadar bahwa untuk membentuk masyarakat maju dan siap menghadapi tantangan di masa depan harus memulai ketertarikan dengan kata-kata, literasi serta budaya membaca.
Berbeda di masaku sewaktu kecil. Untuk mengenal para pejuang literasi sangat susah. Jangankan orang-orang yang mengabdikan hidupnya di bidang literasi, lembaga yang bergerak di bidang inipun susah ditemui. Paling perpustakaan umum kepunyaan Pangkalpinang yang ada, itupun letaknya jauh dari kampung ku hingga jarang ku kunjungi. Tapi saat ini, bertebaran taman bacaan baik tingkat desa dan kelurahan. Milik pemerintah maupun yang dibentuk secara individu. Perkembangan yang sangat menggembirakan karena menjamurnya taman bacaan mengindikasikan peluang mendapatkan kemudahan akses bahan bacaan. Sehingga pencapaian yang dicanangkan oleh pemerintah melalui Perpustakaan Nasional tahun 2019 dapat terlaksana, yaitu Indonesia Gemar Membaca tahun 2019. Yang tentu saja tujuan akhirnya adalah Terwujudnya Indonesia Cerdas Melalui Gemar Membaca dengan Memberdayakan Perpustakaan.
Seperti Atap Langit, perpustakaan desa asal Air Mesu Timur yang sudah memenangkan berbagai penghargaan baik di tingkat lokal maupun nasional. Selain itu, dengan dicanangkannya sebagai kampung literasi semakin menguatkan citra mereka sebagai pejuang dan kecintaan mereka di bidang ini. Tidak hanya menyediakan sarana literasi dan bahan bacaan, Perpustakaan Desa Atap Langit yang digawangi oleh Poni Auri ini juga bergerak di bidang sosial, pendidikan dan ekonomi. Karena selain membuka akses literasi, disini juga dijadikan tempat untuk belajar bagi siswa-siswa yang mengikuti kelas kejar paket A, dan B. Hingga kegiatan mengajipun ada di perpustakaan ini. Bidang ekonomi sebagai penggerak perekonomian di wilayahnya, yaitu dengan membuka usaha cetak batako dengan mempekerjakan masyarakat di sekitar wilayahnya. Untuk bidang sosial, pernah juga mendengar bahwa si pemilk memboyong seorang yang tak dikenal yang datang ke Bangka Belitung dan sekarang menjadi bagian dari Perpustakaan Atap Langit. Bukan untuk mengecilkan pejuang-pejuang literasi yang lain, tetapi memang selama saya menjadi pustakawan, saya hanya berkenalan dengan sosok Poni Auri.
Selain perpustakaan Atap Langit, bermunculan pula taman bacaan di daerah-daerah lainnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Memang kemunculan mereka hanya dapat di pantau di media sosial berupa facebook. Karena letak mereka yang sangat jauh dari Pangkalpinang sehingga saya belum dapat melihat kegiatan mereka secara langsung. Tetapi dengan begini sudah memberikan secercah harapan baru bagi kemajuan provinsi ini. Karena bekal terbaik bagi putra-putri negeri serumpun sebalai ini salah satunya adalah dengan terus mendorong semangat literasi. Semangat membaca. Karena dengan semakin banyak membaca, maka dapat membuka pemahaman serta ide-ide baru. Seperti taman bacaan yang ada di desa Ranggung yang bernama Umah Baco Kite. Walau terkesan sederhana, tetapi dengan gencarnya promosi literasi, diharapkan gaungnya dapat merambah seluruh lapisan masyarakat agar mencintai tulisan. Karena bagaimanapun jua zaman berlalu, tulisan, bahasa, literasi tetap akan bertahan.
Semakin menjamurnya taman bacaan diharapkan generasi penerus kita akan mencintai kata, dan literasi. Dengan cinta literasi, maka kemampuan generasi selanjutnya dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Telah banyak penelitian hingga orang-orang hebat terlahir dengan kecintaan mereka pada buku. Banyak pula petuah-petuah yang diberikan kepada kita betapa pentingnya membaca. Tetapi insan-insan yang bergerak turun langsung untuk memberikan bahan bacaan kepada kita sangat sedikit. Bahkan mereka yang benar-benar turun langsung untuk mendekatkan dunia literasi kepada masyarakat sangat sedikit. Bahkan sangat susah untuk mencari orang-orang yang hidup hanya untuk menyemangati masyarakat agar mencintai buku dan literasi.
Jadi semangatlah pejuang literasi. Karena hadirmu dapat mengubah masa depan negeri ini agar mampu bersaing dengan negeri-negeri lain. Dan tentu saja supaya generasi selanjutnya tidak menjadi penonton di rumah sendiri pada era yang semakin menggila ini.
- 74 reads
