Pekembangan teknologi termutakhir selalu menimbulkan perubahan yang sangat dahsyat seperti mengubah gaya hidup dan kebiasaan sebelumnya. Teknologi Informasi merupakan peluang dan tantangan yang akan dihadapi oleh perpustakaan. Informasi yang ada akan terus dan semakin berkembang. Seiring dengan perkembangan TI, pustakawan akan dihadapkan pada suatu tatanan masyarakat “baru,” yakni masyarakat haus informasi. VUCA merupakan singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity. VUCA menjadi lebih terasa di era Revolusi Industri 4.0. dengan kemajuan TI yang berjalan lebih cepat. VUCA berkaitan dengan cara orang melihat kondisi saat membuat keputusan, merencanakan, mengelola risiko, mendorong perubahan, dan memecahkan masalah. Oleh karena itu, VUCA dinilai dapat mendorong kapasitas sebuah perpustakaan dalam menghadapi perubahan dinamis pada era transformasi digital seperti saat ini. Kondisi tersebutlah yang harus dihadapi oleh perpustakaan. Bagaimana perpustakaan menghadapi tantangan tersebut? Dalam menghadapi tantangan vuca, perpustakaan perlu memberikan Pelatihan Dan pendidikan kepemimpinan dan SDM yang mengakomodasi perubahan cepat yang terjadi dengan memunculkan pembekalan unsur kognitif, kreativitas, dan spiritualitas.
Ledakan informasi yang melibatkan seluruh lapisan infrastruktur informasi membuat pustakawan mempunyai “saingan.” Persaingan ini dapat menjadikan pustakawan sebagai peluang atau tantangan, bagi pustakawan yang kreatif, memiliki dedikasi tinggi dan kemampuan untuk mengaplikasikan teknologi informasi akan menjadi ujung tombak dalam penyebaran informasi, sedangkan bagi pustakawan yang malas dan tidak kreatif akan semakin tertinggal oleh perkembangan infromasi yang ada. Tantangan kedepan bagi pustakawan semakin berat, karena dituntut selalu berupaya melaksanakan tugasnya di bidang informasi, terutama dalam rangka menjalankan fungsi pendidikan.
Ada 4 strategi yang dapat membuat kita lebih baik dalam menghadapi VUCA ini. Pertama, Agile Learning, belajar terus menerus dengan tangkas. Karena perubahan TI tidak ada habisnya, maka perbaikan dan pembelajaran jadi kunci utama suatu keberhasilan. Menciptakan suasana bejalar yang kondusif di perpustakaan, mempelajari hal-hal yang bukan bidang perpustakaan, serta memperkaya skills kita dalam banyak hal akan membuat kita semakin mampu menghadapi perubahan yang cepat ini. Kedua, Adeptness to Ambiguity. Mampu menghadapai ketidakpastian. Bisa beradaptasi pada hal-hal yang rumit dan kompleks. Punya keyakinan pribadi yang baik, dapat selalu bangkit dari kegagalan - kegagalan yang dilalui. Punya kelebaran pemikiran dan daya adaptasi tinggi terhadap perubahan dan prosesnya. Ketiga, Thinking Strategically. Mampu berpikir secara strategis. Mampu mengerjakan permintaan yang sulit dalam informasi yang tidak lengkap. Bisa berpikir lebih panjang dari yang diharapkan. Bisa menginspirasi orang lain akan masa depan dan pencapaian hal yang positif. Keempat, Drive to Execute. Mendorong Eksekusi. Berani mengambil resiko yang diperhitungkan dan mendorong pelaksanaan strategi dengan tegas dan cepat. Mampu mendorong dan mempengaruhi orang lain untuk menyelesaikan semua tantangan. Pimpinan juga harus bisa mendorong anak buahnya supaya mau dan mampu mengambil resiko tertentu dalam mengeksekusi hal-hal yang sifatnya untuk kemajuan perpustakaan.
Diharapkan ke-empat strategi tersebut dapat dilakukan dengan kecepatan tinggi, fleksibel dalam pelaksanaan dan tetap fokus pada tujuan perpustakaan. Walaupun tidak selalu bisa menghadapi semua hal yang berubah dengan cepat, tetapi setidaknya 4 hal ini mampu membuat kita menjadi lebih “sakti” dalam menjalankan perpustakaan kita dijaman ini.
DAFTAR PUSTAKA :
Supriyatna, Iwan. 2018. Strategi Perusahaan Agar Tak Gagap Hadapi Era Revolusi Industri 4.0. [Internet]. Tersedia di : https://www.suara.com/bisnis/2018/12/13/174653/strategi-perusahaan-agar-tak-gagap-hadapi-era-revolusi-industri-40.
Wasitarini, Dewi Endah. 2018. Peran Pustakawan Dalam Era Library 4.0. Jurnal Media Informasi dan Komunikasi Diklat Kepustakawanan. 4(2): 16-24.
- 980 reads
