Literasi sebagai dasar ilmu pengetahuan sangat mempengaruhi maju mundurnya peradaban suatu bangsa. Merupakan hal yang nyata bahwa semakin tinggi budaya melek huruf dan baca tulis suatu bangsa, maka semakin tinggi pula kemungkinan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Sebagai contoh untuk perenungan sejenak berikut adalah peringkat literasi negara berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, disebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke 60, Malaysia 53, Singapura 36 dan Jepang 32 dari total 61 negara yang diteliti.
Bukankah sudah terbayang bagaimana memang Literasi menjadi pengaruh yang sangat tinggi bagi perkembangan pengetahuan dan teknologi suatu bangsa dan negara. Tanpa data valid tersebut juga kita sudah bisa melihat secara nyata bahwa kebiasan membaca masyarakat jepanglah yang mengantarkan mereka menjadi salah satu negara yang masih merajai industri teknologi.
Kebiasaan membaca masyarakat menjadi cerminan peradaban masyarakat itu sendiri, hal ini tidak dapat dipungkiri bila melihat fenomena yang disebutkan di atas. Indonesia yang ketertarikan masyarakatnya akan literasi cukup tertinggal diantara tetangganya memang mau tidak mau suka tidak suka harus mengakuinya. Hal ini tidak semata difaktori oleh buta aksara masyarakat Indonesia karena faktanya Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) menyatakankan angka bebas buta aksara di Tanah Air mencapai 97,93 persen sehingga sekitar 2,07 persen atau 3,4 juta warga yang masih belum bisa membaca (Liputan6.com:2017), namun hal ini juga difaktori oleh masyarakat yang tidak biasa membaca.
Sesuatu yang tidak dibiasakan akan menjadi sangat sulit untuk dilakukan, begitupun sesuatu yang sangat sulit dilakukan akan menjadi mudah jika biasa dilakukan. Pembiasaan inilah yang harus kita kejar. Dimana mulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga hendaknya membiasakan budaya membaca. Pengenalan kepada anak sedini mungkin tentang literasi yaitu baca tulis, sehingga jika sudah mengenal dapat dibiasakan untuk setiap harinya anak harus ada yang dibaca walaupun satu paragraf. Begitupun di sekolah, hendaknya membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai dapat diterapkan di seluruh sekolah dengan seluruh tingkatan di Indonesia. Hal ini tidak pelak adalah untuk kebaikan mereka dan perkembangan pengetahuan. Melalui membaca anak dapat memperoleh, mengetahui, dan menciptakan sesuatu, itu yang kita harapkan.
DAFTAR PUSTAKA
2016. Valerie Strauss. Most Literate Nation In The World? Not The U.S., New Ranking Says. The Washington Post.
2017. 3,4 Juta Warga Indonesia Belum Bisa Baca Tulis. Liputan6.com
- 28 reads
